Kami Pejalan Dan Kami Bahagia

Kali ini saya ingin berbagi tentang arti sebuah kebahagiaan. Dan tulisan saya ini bersifat subjektif, menurut pandangan pribadi saya, dan kalau ada yang tidak setuju dengan apa yang saya tulis, silahkan kasih komen, kritik, argumentasi, kasih duit juga saya terima, #lah. Asal semua disampaikan secara sopan.

Mungkin kalian sudah tak asing dengan kata-kata ini : Bahagia Itu Sederhana. Setuju? Kalau Saya pribadi, sangat setuju. Memang benar kata-kata itu, bahagia memang sederhana. Cukup dengan bersyukur atas semua yang dimiliki, seseorang pasti akan merasakan kebahagiaan. Dan kata bahagia itu sendiri tentunya tiap-tiap orang punya punya pendapatnya masing-masing tentang apa yang membuat mereka merasa bahagia.

Bagi saya, sebuah kebahagiaan adalah ketika saya bisa meluangkan waktu untuk jalan-jalan, atau bahasa kerennya traveling. Saya sangat suka melakukan perjalanan, terutama melakukan pendakian gunung. Dan saya rasa, mendaki gunung adalah passion saya, karena aktivitas yang satu ini memang selalu membuat saya bersemangat, membuat saya bergairah. Saya sangat menaruh minat yang sangat besar untuk hal yang satu ini. Saya memendam obsesi untuk bisa menjejajakkan kaki di puncak-puncak tertinggi negeri ini.

Bagi saya dan kawan-kawan lain yang senasib sepenanggungan, #halah, maksudnya memiliki passion yang sama sebagai pejalan, atau biasa disebut backpacker, hiker, traveller, goalkeeper, whatever lah, kami punya pandangan sendiri tentang arti sebuah kebahagiaan. Tak muluk-muluk arti bahagia bagi kami, bisa melangkah untuk memulai perjalanan adalah awal kebahagiaan kami. Bertemu dengan kawan seperjalanan, mengunjungi sebuah destinasi , dan pulang membawa banyak cerita perjalanan, itulah kebahagiaan bagi kami.

Mungkin bagi sebagian orang, apa yang kami lakukan sedikit dipandang sebelah mata, dalam arti dianggap tidak terlalu berguna, dan hanya membuang-buang waktu serta uang, terutama untuk perjalanan seperti melakukan pendakian gunung.

Tapi bagi saya menjadi seorang pejalan atau pendaki, adalah sebuah kebahagiaan. Inilah yang saya perjuangkan dalam hidup. Bukankah dalam hidup ini, kita memang mencari kebahagiaan? Dan terkadang ketika kita melakukan sesuatu, tapi orang lain memandang sebelah mata, tak perlu kita butuh jawaban bermacam-macam, cukup dengan mengatakan karena kita bahagia dengan yang apa yang kita lakukan.

Saya pribadi sudah sering mendengar pertanyaan, untuk apa naik gunung?, dan sering juga jawaban yang saya berikan tidak macam-macam, sederhana saja, saya jawab karena saya bahagia ketika mendaki gunung. Ya, memang sesederhana itu.

Dulu, ketika pertama kali saya mendaki gunung, tidak ada alasan khusus kenapa saya ingin mendaki gunung. Hanya karena didorong oleh rasa penasaran sekaligus membayangkan bahwa naik gunung itu menyenangkan bagi saya. Awalnya juga masih ada perasaan ragu dan takut untuk mulai mendaki gunung, tapi karena adanya teman yang saling support, saya memberanikan diri untuk mendaki gunung. Dan gunung yang saya daki pertama kali cukup terkenal di kalangan pendaki, karena memiliki trek pendakian terpanjang di tanah jawa, Argopuro.

Tapi waktu itu saya masih belum paham bahwa gunung yang saya daki ternyata memiliki trek terpanjang di tanah jawa, karena yang seperti saya bilang, saya mendaki gunung karena didasari rasa penasaran sekaligus pemikiran bahwa naik gunung itu menyenangkan dan bisa memberikan pengalaman yang tak akan pernah terlupa selamanya.

Saya sangat menikmati proses untuk mulai pendakian tersebut, mulai dari merencanakan waktu, jumlah teman yang akan ikut, rincian biaya, perlengkapan, sampai merencanakan kebutuhan logistik selama pendakian. Dan pada saat pendakian pun, ada begitu banyak cerita dan pengalaman yang saya dapat. Bersama teman-teman sebaya, saya berjalan langkah demi langkah menyusuri lebatnya hutan Argopuro, sambil bercanda ria. Walaupun beban yang kami bawa dalam tas masing-masing cukup berat, tapi jarang kami mengeluh, justru kami menikmati perjalanan itu. Dan terlebih ketika telah sampai di puncak, kebahagiaan dan rasa haru kami juga mencapai puncaknya. Walaupun rasa lelah terus mendera kami selama 4 hari 4 malam, tapi tak bisa mengalahkan kebahagiaan yang kami dapatkan waktu itu.

Bahagia. Sekali lagi, kata itu yang saya perjuangkan dalam hidup ini. Dengan cara apa? Menjadi seorang pejalan untuk melakukan sebuah perjalanan, kemanapun itu, bersama siapapun itu, saya yakin kebahagiaan akan saya dapatkan di dalam melakukan perjalanan.

Kasih dan Kemarahan

“BENANG SUTRA SANG LABA-LABA” RAM #373

Suatu waktu, Sang Buddha sedang berjalan-jalan di sekitar* sebuah danau
teratai. telaga* tersebut diisi* dengan bunga teratai yang estetis* beraneka warna.

Saat menyaksikan* ke dasar danau, Dia menemukan* bahwa di bawah kelopak
bunga yang cantik terdapat* lumpur yang kotor.

Ketika menyaksikan* lebih dalam lagi, Dia menyaksikan* neraka! Dia menyaksikan* lautan api
di mana tidak sedikit* banget orang-orang berdosa sekitar* masa hidupnya, berteriak kesakitan, berjuang* untuk menggali* jalan supaya* bisa keluar, namun* usaha mereka seluruh* percuma, sebab* tidak terdapat* jalan keluar.

Ketika Sang Buddha menyaksikan* peristiwa yang mencekam* tersebut, dirinya dipenuhi
oleh rasa belas kasih dan Dia mengupayakan* memikirkan bagaimana teknik* untuk dapat
menyelamatkan orang-orang berdosa tersebut.

Sayangnya, dosa-dosa yang mereka lakukan saat* mereka hidup di dunia
sangatlah berat dan tidak terdapat* suatu dalil* untuk dapat memaafkan* mereka
dari siksa neraka tersebut.

Akhirnya, Sang Buddha menyaksikan* ada seorang yang bisa* diselamatkan, walaupun
dia telah mengerjakan* semua tindakan* dosa yang berat.

Suatu hari di kehidupannya yang dulu masa-masa* orang itu* sedang
berjalan, dia nyaris* menginjak seekor fauna* laba-laba. Tepat pada ketika* itu, rasa
kasihan dalam hatinya, dia berhenti dan tidak mempedulikan* laba-laba tersebut* lewat.

Karena satu tindakan* kecil ini, orang itu* berhak mendapatkan peluang* untuk
dikeluarkan dari neraka. Maka, Sang Buddha dengan lembut mengusung* seekor laba-laba yang sedang
merajut jaring, dan Dia menjulurkan seutas benang sutra ke dasar danau.

Setelah melewati* sela-sela kelopak bunga dan daun, serta lumpur, benang itu
akhirnya menjangkau* neraka.

Ketika menyaksikan* seutas benang itu, orang tersebut* sangat senang. Dengan segera ia
meraih benang tersebut* dan mulai segera mendaki* naik.

Dari neraka ke telaga* yang terdapat* bunga teratai rasanya jauh sekali. Dia mendaki* untuk waktu
yang lama sekali.
Karena telah* merasa lelah, diapun berhenti di tengah jalan guna* ngaso heula.

Saat itu, dia menyaksikan* ke bawah dan melihat tidak sedikit* orang yang pun* sedang
naik manjat.

Dia menjadi khawatir, “Aku barangkali* tidak bakal* mendapatkan peluang* yang
lain lagi untuk mengamankan* diri.

Apabila benang sutra ini putus sebab* berat orang-orang itu, aku bakal* jatuh
lagi ke neraka yang mencekam* itu.”

Dia berteriak untuk* orang-orang di bawahnya, “Benang ini ialah* milikku,
tidak seorangpun dari kalian berhak menyentuhnya!”

Tapi orang-orang di bawah tetap mendaki* naik.

Dalam kepanikannya, orang itu* menendang yang lain agar* kembali ke
bawah.

Ketika dia mengerjakan* hal itu, benang tersebut seketika* putus, dan semua
orang jatuh pulang* ke lautan api.

Buddha telah bercita-cita** untuk dapat mengamankan* jiwa-jiwa yang menderita
itu, tapi melulu* karena kemarahan satu orang semuanya pulang* ke neraka.

“Mengapa cinta insan* sangat rapuh?” gumam Sang Buddha.

“Dia melulu* tahu menyukai* dirinya sendiri dan tidak ke orang lain.

Oleh sebab tersebut* manusia tidak jarang* kali* harus menanggung penderitaan dari lingkaran
reinkarnasi.”

PESAN MORAL : Kehidupan di dunia ini sarat* dengan penderitaan dan setiap
orang bercita-cita** untuk diselamatkan.

Tetapi, bilamana* mereka melulu* mengejar keselamatan diri sendiri dan tidak
memperdulikan apakah yang beda* hidup atau mati, keegoisan ini hanya
mendatangkan karma

buruk dan penderitaan terus menerus.

Maka, bilamana* seseorang mengharapkan* kehidupan yang sarat* berkah dan
kebijaksanaan, dia me*sti mengembangkan cinta kasihnya dan inginkan* peduli
terhadap penderitaan orang lain, tidak saja* khawatir terhadap persoalan
pribadinya sendiri.

Lebih lanjut, dia tidak saja* mengerjakan kebajikan* saja, namun* juga
mendorong orang lain guna* juga melakukan* baik, sampai-sampai* semua orang dapat
bersama-sama membuat* kehidupan yang damai dan sentosa.

(Dikutip dari : “Berita Tzu Chi Indonesia Edisi Oktober 2001″)

BONUS :
Ada dua urusan* yang me*sti kita* lupakan:
Kebaikan yang kita* lakukan untuk* orang beda* dan kekeliruan* orang lain
kepada Anda.