Kasih dan Kemarahan

“BENANG SUTRA SANG LABA-LABA” RAM #373

Suatu waktu, Sang Buddha sedang berjalan-jalan di sekitar* sebuah danau
teratai. telaga* tersebut diisi* dengan bunga teratai yang estetis* beraneka warna.

Saat menyaksikan* ke dasar danau, Dia menemukan* bahwa di bawah kelopak
bunga yang cantik terdapat* lumpur yang kotor.

Ketika menyaksikan* lebih dalam lagi, Dia menyaksikan* neraka! Dia menyaksikan* lautan api
di mana tidak sedikit* banget orang-orang berdosa sekitar* masa hidupnya, berteriak kesakitan, berjuang* untuk menggali* jalan supaya* bisa keluar, namun* usaha mereka seluruh* percuma, sebab* tidak terdapat* jalan keluar.

Ketika Sang Buddha menyaksikan* peristiwa yang mencekam* tersebut, dirinya dipenuhi
oleh rasa belas kasih dan Dia mengupayakan* memikirkan bagaimana teknik* untuk dapat
menyelamatkan orang-orang berdosa tersebut.

Sayangnya, dosa-dosa yang mereka lakukan saat* mereka hidup di dunia
sangatlah berat dan tidak terdapat* suatu dalil* untuk dapat memaafkan* mereka
dari siksa neraka tersebut.

Akhirnya, Sang Buddha menyaksikan* ada seorang yang bisa* diselamatkan, walaupun
dia telah mengerjakan* semua tindakan* dosa yang berat.

Suatu hari di kehidupannya yang dulu masa-masa* orang itu* sedang
berjalan, dia nyaris* menginjak seekor fauna* laba-laba. Tepat pada ketika* itu, rasa
kasihan dalam hatinya, dia berhenti dan tidak mempedulikan* laba-laba tersebut* lewat.

Karena satu tindakan* kecil ini, orang itu* berhak mendapatkan peluang* untuk
dikeluarkan dari neraka. Maka, Sang Buddha dengan lembut mengusung* seekor laba-laba yang sedang
merajut jaring, dan Dia menjulurkan seutas benang sutra ke dasar danau.

Setelah melewati* sela-sela kelopak bunga dan daun, serta lumpur, benang itu
akhirnya menjangkau* neraka.

Ketika menyaksikan* seutas benang itu, orang tersebut* sangat senang. Dengan segera ia
meraih benang tersebut* dan mulai segera mendaki* naik.

Dari neraka ke telaga* yang terdapat* bunga teratai rasanya jauh sekali. Dia mendaki* untuk waktu
yang lama sekali.
Karena telah* merasa lelah, diapun berhenti di tengah jalan guna* ngaso heula.

Saat itu, dia menyaksikan* ke bawah dan melihat tidak sedikit* orang yang pun* sedang
naik manjat.

Dia menjadi khawatir, “Aku barangkali* tidak bakal* mendapatkan peluang* yang
lain lagi untuk mengamankan* diri.

Apabila benang sutra ini putus sebab* berat orang-orang itu, aku bakal* jatuh
lagi ke neraka yang mencekam* itu.”

Dia berteriak untuk* orang-orang di bawahnya, “Benang ini ialah* milikku,
tidak seorangpun dari kalian berhak menyentuhnya!”

Tapi orang-orang di bawah tetap mendaki* naik.

Dalam kepanikannya, orang itu* menendang yang lain agar* kembali ke
bawah.

Ketika dia mengerjakan* hal itu, benang tersebut seketika* putus, dan semua
orang jatuh pulang* ke lautan api.

Buddha telah bercita-cita** untuk dapat mengamankan* jiwa-jiwa yang menderita
itu, tapi melulu* karena kemarahan satu orang semuanya pulang* ke neraka.

“Mengapa cinta insan* sangat rapuh?” gumam Sang Buddha.

“Dia melulu* tahu menyukai* dirinya sendiri dan tidak ke orang lain.

Oleh sebab tersebut* manusia tidak jarang* kali* harus menanggung penderitaan dari lingkaran
reinkarnasi.”

PESAN MORAL : Kehidupan di dunia ini sarat* dengan penderitaan dan setiap
orang bercita-cita** untuk diselamatkan.

Tetapi, bilamana* mereka melulu* mengejar keselamatan diri sendiri dan tidak
memperdulikan apakah yang beda* hidup atau mati, keegoisan ini hanya
mendatangkan karma

buruk dan penderitaan terus menerus.

Maka, bilamana* seseorang mengharapkan* kehidupan yang sarat* berkah dan
kebijaksanaan, dia me*sti mengembangkan cinta kasihnya dan inginkan* peduli
terhadap penderitaan orang lain, tidak saja* khawatir terhadap persoalan
pribadinya sendiri.

Lebih lanjut, dia tidak saja* mengerjakan kebajikan* saja, namun* juga
mendorong orang lain guna* juga melakukan* baik, sampai-sampai* semua orang dapat
bersama-sama membuat* kehidupan yang damai dan sentosa.

(Dikutip dari : “Berita Tzu Chi Indonesia Edisi Oktober 2001″)

BONUS :
Ada dua urusan* yang me*sti kita* lupakan:
Kebaikan yang kita* lakukan untuk* orang beda* dan kekeliruan* orang lain
kepada Anda.